Semua Ada Porsinya

Dalam kondisi normal, semua ada porsinya. Masinis mengemudikan kereta api, kusir mengendalikan dokar. Sulit jika ditukar.

Di jalan raya juga begitu. Selaku pemotor, saya dipaksa undang-undang berada di jalur kiri jalan. Saya juga harus manut menyalakan lampu utama pada siang hari.

Bus rapid transit (BRT) Trans Jakarta punya busway, pejalan kaki disediakan trotoar, dan penyeberang jalan disediakan jembatan penyeberangan orang (JPO) dan zebra cross.

Oh ya, pada rute tertentu di Jakarta, seperti di Jl Jenderal Sudirman dan Jl MH Thamrin, ada jalur untuk sepeda motor. Bahkan, di sekitar Blok M, Jakarta Selatan ada jalur buat sepeda kayuh.

Rasanya bakal menjadi nyaman bila masing-masing berada di porsinya. Tapi, apa jadinya manakala semua saling tumpang tindih?

Saat saya berjalan kaki di trotoar jalan, lalu muncul berbondong-bondong pemotor merangsek trotoar, rasanya tak elok. Kesal.

Begitu juga ketika trotoar ditumbuhi bunga trotoar, para pedagang kaki lima.

Keberanian yang bukan pada tempatnya dengan merampas porsi pihak lain, bukan mustahil tak semata menimbulkan rasa kesal.

Gesekan lebih luas amat terbuka. Sebagai pemotor, saat saya dipaksa di lajur kiri, gak jarang harus berhimpitan dengan kendaraan pribadi dan angkutan umum.

Hak saya selaku pemotor seperti dicabik-cabik. Saya kesal. Menggerutu di dalam hati.

Rambu dan marka jalan memandu kita tetap pada porsinya saat di jalan. Instrumen yang dibuat untuk kenyamanan, keamanan, dan keselamatan jalan lazim dipatuhi. Tapi, kenapa dengan mudah kita mengabaikan?

Buktinya, pada 2011, setiap hari rata-rata ada 960 kasus pelanggaran marka dan rambu jalan oleh pemobil. Bahkan, ada 1.800 kasus pelanggaran serupa oleh pemotor.

Adakah meruyak sikap acuh pada aturan yang telah dibuat? Kenapa itu terjadi?

Apakah merasa aturan yang ada dianggap tak mampu menjamin kenyamanan, keamanan, dan keselamatan saat berlalu lintas jalan

Kehidupan kita seperti dipaksa berpacu dengan waktu. Bertindak tergesa-gesa. Ingin lebih cepat mencapai sesuatu.

Bahkan, tak jarang menempuh jalan pintas dengan melabrak aturan yang ada. Kalau itu dipertontonkan saat berlalu lintas di jalan, tak heran jika Indonesia tiap hari kehilangan 85 anak bangsa akibat kecelakaan.

Faktanya, lebih dari 50% pemicu kecelakaan tadi adalah faktor manusia, terutama tidak tertib dan lengah.

Soal tidak tertib di jalan, rasanya andil para petugas penegak hukum juga perlu dipertanyakan.

Mereka selaku penanggung jawab keamanan dan keselamatan jalan mesti maksimal lagi dalam bekerja. Tidak pandang bulu, tegas, dan konsisten.

Saya yakin, jika pelanggaran dicegah bisa ikut mereduksi peluang terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Bukan begitu pak petugas?

Di luar itu semua, yang juga cukup menarik adalah soal harapan munculnya angkutan missal umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau.

Saat publik mencari alternatif angkutan dengan memilih kendaraan pribadi, rasanya sebuah upaya untuk survive. Bertahan hidup di tengah moda transportasi yang belum dianggap memadai.

Alternatif yang relatif dijangkau oleh mayoritas masyarakat adalah sepeda motor. Di Jakarta dan sekitarnya, tak kurang dari 9,8 juta sepeda motor yang beredar pada 2012.

Di tengah segala risiko, terutama risiko kecelakaan, para pemotor mencoba memenuhi kebutuhannya untuk bermobilitas.

Menurut Kementerian Perhubungan, penggunaan sepeda motor sebagian besar, yakni 48% untuk ke tempat kerja lalu, 16% untuk berbisnis, sebanyak 14% untuk rekreasi , dan 22% untuk keperluan lainnya.

Melihat fungsi-fungsi tersebut, terlihat bahwa pemakai sepeda motor benar-benar menggantungkan alat transportasinya pada si roda dua.

Walau, seperti saya singgung tadi, dibayangi oleh sejumlah risiko. Kita tahu, pada 2011, dari total 1.008 korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan di wilayah Polda Metro Jaya, sekitar 79,36%-nya adalah pemotor.

Rasanya mulai sekarang kita para pemotor mulai berani menyimpang ego di dada. Nikmati kemacetan, lupakan merampas trotoar jalan, apalagi melibas marka dan rambu jalan. Semua ada porsinya.

Sumber: Netsains