Kurikulum Programming

Kenapa didirikan di Indonesia? “Sebab kami bukan mencari apa yang laku tetapi mencari masalah apa yang harus dipecahkan,” jawab Aranggi. Menurutnya, permasalahan di Indonesia sangat banyak, termasuk di bidang pendidikan. Masalah terbesar adalah pada sumber daya manusianya; kompetensinya rendah, begitu juga problem solving, serta pikiran kritisnya sehingga saat menganalisis dan mengambil kesimpulan jadi sering salah.

Jumlah siswa sekolah di Indonesia yang belajar programming, lanjut Aranggi, juga sangat rendah. Padahal 10 tahun ke depan, teknologi sudah sangat menyatu dengan kehidupan kita. Jika saat ini ponsel masih dipegang, mungkin 10 tahun ke depan sudah menyatu dengan kacamata seperti Google Glass.

Di Amerika saja, meski pemerintahnya sudah mengampanyekan siswa sekolah untuk belajar programming, lewat iklan, promo di jejaring sosial, hanya 20% pelajar SD yang mau belajar programing, 80% belum belajar. Kemudian di Singapura dan Tiongkok, programming sudah masuk ke dalam kurikulum sekolah sementara di Indonesia belum ada sama sekali.

Bermimpi Lewat Coder Camp

Aranggi Soemardjan memiliki mimpi kelak anak-anak Indonesia bisa jatuh cinta pada sekolah, jatuh cinta pada pelajaran-pelajaran di kelas. Tidak seperti saat ini, para murid bosan di kelas, tersiksa saat pelajaran berlangsung, kemudian sangat bersemangat ketika bel pulang berbunyi. “Saya bermimpi semua itu bisa hilang” kata Aranggi.

Untuk mengejar mimpi itu, bersama sang istri, Fransisca Oetami, Aranggi pun mendirikan PT Clevio dengan program Clevio Coder Camp, sebuah perusahaan yang bergerak di dalam bidang pendidikan nonformal untuk memberdayakan manusia dengan menggunakan teknologi secara cerdik. Pria yang meraih predikat cum laude di Fakultas Teknik Universitas Memphis ini, memilih game sebagai media pembelajaran di Clevio Coder Camp.

Lewat game, pembelajaran akan lebih mengasyikkan, membuat anak penasaran, tetapi juga bisa meningkatkan kemampuan berpikir yang tangguh, kreatif, dan kritis. Empat prinsip Clevio pun diterapkan. Clever (cerdik), leverage (memberdayakan), human centric (manusiawi), dan greater good (manfaatnya meluas dan bukan untuk diri sendiri saja).

Fokus utama saat anak masuk camp, bukan pada permainannya, melainkan menciptakan game yang dapat meningkatkan lifeskill anak seperti logika berpikir, kemampuan sosial, kerja sama, dan wirausaha. Software yang digunakan dari MIT (Massachusset Institute Tecnology), Univeristy of Berkeley, Microsoft, dan lainnya. Programnya tidak menggunakan bahasa-bahasa yang sulit melainkan teknologi pasel sehingga mudah dipelajari anak.

Bahasa memang sangat penting sekali dalam kehidupan sehari-hari. Selain bahasa programing tentunya bahasa interaksi antar manusia juga sangat penting. Berikan anak tambahan belajar bahasa di lembaga les bahasa asing online terbaik. Agar anak memiliki bekal yang cukup untuk melewati dunia globalisasi sekarang ini.