6 upacara nenek moyang untuk permintaan hujan

Tradisi meminta hujan lahir karena musim kemarau yang panjang sebenarnya dapat menciptakan berbagai masalah, termasuk membuat petani menderita.

6 upacara nenek moyang untuk permintaan hujan

Selain petani sulit mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari, ladang dan ladang mereka bahkan mungkin tidak dapat mengumpulkan karena kekurangan
air.
Berharap hujan lebih awal, masyarakat juga mengadakan ritual meminta hujan.

Nah dilansir dari waheedbaly.com , sejak awal, nenek moyang kita sebenarnya punya cara untuk meminta hujan.

Artinya dengan melakukan berbagai jenis ritual, ritual apa dan dari mana mereka berasal?

Ujangan

Pemeriksaan adalah tradisi memukul rotan dalam ritual meminta hujan.

Tradisi ini didukung oleh penduduk desa Gumelem, kabupaten Susukan, kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Game ini hanya diikuti oleh pria dewasa dengan iringan musik genre banyumasan.

Untuk melindungi anggota tubuh dari pukulan rotan lawan, pemain memakai kain pelindung dalam bentuk kain tebal yang telah diisi dengan serat kelapa.

Konon tradisi rotan ini sudah ada sejak 1830.

Tarian Tiban

Tarian Tibet adalah tarian kuno yang dipertunjukkan selama ritual hujan.

Dengan cambuk batang gula aren yang dipilin, para pemain memasuki arena saat mereka menari ke pelabuhan.

Tradisi ini dipraktekkan setiap tahun selama musim kemarau oleh penduduk desa Wajak Lor, kabupaten Bojolonagu, kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Ojung

Seperti dalam tradisi Ujungan, penduduk Desa Blimbing, di Kabupaten Klabang, di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, telah menyelenggarakan aksi sabotase rotan yang disebut Ojung.

Tindakan ini terjadi setelah peristiwa keselamatan dalam bentuk doa dan makan bersama di tepi sungai.

Upacara ini juga dimeriahkan oleh tarian tradisional daerah ini, yaitu tarian topeng kuno dan tarian rontek
Singo.

Cowongan

Cowongan adalah tradisi untuk meminta hujan dengan membuat boneka irus (sendok sayur) atau siwur yang dibuat dengan batok kelapa.

Tradisi ini dipraktekkan oleh penduduk desa Plana, kabupaten Somagede, kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Cowongan terjadi selama kekeringan panjang.

Diisi dengan siwur atau irus dengan penampilan feminin.

Pemain memainkan puisi yang berisi doa kepada penguasa alam untuk segera menerima hujan.

Nyaluh Ondou

Nyaluh Ondou adalah ritual yang menyerukan hujan bagi orang Dayak di Ot Danum di Kalimantan Tengah.

Upacara dimulai dengan pengumpulan air dan pasir di tepi sungai Kahayan, diikuti oleh persembahan di tengah hutan.

Persembahannya termasuk bungkusan garam, koin, telur yang dimasak, nasi dan ketan, rokok, dan ayam rebus.

Penawaran ini ditawarkan kepada tiga raja atau malaikat yang mengatur hujan.

Yaitu Raja Gamala Raja Tenggara (penguasa petir), Raja Junjulung Tatu Riwut (penguasa angin) dan Raja Sangkaria Anak Nyaru (penguasa petir).

Setelah membaca doa, peserta ritual kembali ke sungai mengalir.

Sesampainya di dekat sungai, pemimpin upacara melepaskan seekor ayam jantan untuk ditangkap.

Selamatan Gunungsari

Tradisi meminta hujan juga dilakukan oleh warga Desa Gunungsari, Desa Indrodelik, Kabupaten Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan penyelamatan di Danau Gunungsari yang sudah memiliki
kering.

Dalam upacara ini, warga membawa makanan seperti nasi kuning, ketan, buah, ikan dan minuman dawet.

Setelah semua penghuni berkumpul, salat disembah dan terus makan bersama.

Konon, tradisi meminta hujan sudah ada sejak lama.

Tradisi ini merupakan bentuk rasa terima kasih, sekaligus cara menjaga danau sebagai sumber air bagi penduduk desa.

Sumber : doa meminta hujan